Pergantian kurikulum yang kurang bermutu akan merusak tatanan pendidikan yang telah ada. Munculnya kurikulum yang kurang berkualitas akan membuat kita kebingungan. Dimana kurikulum kita sebenarnya berada?.
Ketika seseorang membicarakan masalah mutu pendidikan, prestasi sekolah, keberhasilan siswa, ataupun keberhasilan sebuah lembaga pendidikan, pastilah yang ada di benak kita adalah berapa banyak persentase kelulusan ujian nasional (UN). Berapa rata-rata nilai rapor siswa, rangking berapa yang diperoleh, berapa persen yang lulus di perguruan tinggi, dan berbagai indikator kuantitatif lainnya. Seakan-akan persoalan pendidikan cukup diuraikan dan ditentukan berdasarkan angka saja, sehingga prestasi siswa, keberhasilan sekolah, keberhasilan guru mengenai pendidikan cukup diukur dengan keabsahan angka saja. Mengandalkan angka dalam membicarakan pendidkan malah bisa menyesatkan. Karena bisa saja angka yang dimiliki tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya dan apa yang disajikan belum tentu merupakan indikator dari apa yang ingin digambarkan, atau bahkan lebih parah lagi bahwa apa yang disajikan memang sengaja dibuat bisa dari keadaan sesungguhnya.
Untuk menilai keberhasilan sebuah institusi pendidikan, sangat kurang tepat jika hanya mengandalkan angka saja, karena selain angka tersebut bisa keliru dan dapat mengelabui, diperlukan juga indikator kualitatif yang menggambarkan keberhasilan sebuah institusi pendidikan dalam mendidik siswanya.
Pemerintah mengadakan UN hanya sebatas indikator kelulusan siswa. Tapi, kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak orang yang pro dan kontra dengan terselenggaranya UN. Disatu pihak UN merupakan bukti kelulusan siswa. Lalu, bagaimana bagi mereka yang tidak lul us? Terkadang, salah satu siswa yang tidak lulus tersebut sangat pintar dan rajin di sekolahnya. Tapi pada waktu pelaksanaan UN, predikat kelulusan tidak disandangnya. Banyak pula yang berpendapat, UN itu untung-untungan saja, hanya permainan saja, kelulusan seorang siswa bisa dimanipulasi, dan banyak anggapan-anggapan miring lainnya. Apa kurikulum yang dipakai sebuah lembaga pendidikan hanya asal-asalan saja? lalu, siapa yang pantas disalahkan?
Hasil UN tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai indikator keberhasilan siswa pada sebuah sekolah. Karena kualitas sebuah lembaga pendidikan tidak hanya ditentukan oleh hasil, tetapi juga bagaimana proses terjadinya pencapaian hasil yang diperoleh. Keberhasilan menjawab soal ujian, apalagi soalnya hanya berupa pilihan berganda, tentunya tidak dapat dijadikan patokan bahwa siswa tersebut sudah menguasai ilmu pengetahuan yang diajarkan.
Orientasi sekolah maupun pemerintah pada saat sekarang ini hanya mengejar kelulusan, bukan lagi untuk penguasaan ilmu pengetahuan secara umum. Akibatnya, sekolah-sekolah hanya dijadikan sebagai tempat bimbingan belajar semata yang kegiatannya cenderung hanya mengajari siswa bagaimana menjawab soal sekaligus memeberikan kiat-kiat menjawab soal-soal, bukan lagi untuk mendidik siswa agar menguasai ilmu pengetahuan.
Pada pelaksanaan UN, masih banyak sekolah-sekolah yang berbuat kecurangan untuk membantu kelulusan siswa-siswanya. Membantu menjawab soal-soal yang ada. Hal ini juga dilakukan agar sebuah lembaga pendidikan terseut tidak jelek dimata masyarakat, selain itu untuk menghindari predikat "sekolah tak bermutu" di lingkungan sekitar. Jika ini yang terjadi terus-menerus, maka UN dipastikan akan menjadi ajang pembodohan dan akan melahirkan generasi yang "bodoh" dan "munafik" yang membohongi diri sendiri. Angka yang tidak menggambarkan keadaans sesungguhnya. Angka hanya bisa mengelabui, yang merupakan ajang cara berbohong dengan statistik.